PIHAK-PIHAK YANG TERKAIT DALAM PERJANJIAN ASURANSI KESEHATAN
Pihak-pihak yang terkait dalam perjanjian asuransi kesehatan ada beberapa
bagian. Sebelum menguraikan pihak-pihak yang terkait dalam perjanjian asuransi
kesehatan perlu diuraikan terlebih dahulu hubungan antara perjanjian dengan
perjanjian asuransi. Perjanjian diatur didalam Buku Ketiga KUHPerdata yaitu
dalam Bab V sampai dengan Bab XVIII dan Bab VII A mengatur tentang
persetujuan-persetujuan bernama (tertentu).
Beberapa persetujuan diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Dagang seperti
Perseroan, Asuransi, Komisioner, Makelar, Pengangkutan. Pengertian perjanjian
menurut Pasal 1313 KUHPerdata yaitu suatu perbuatan dengan mana satu orang atau
lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atu lebih.
Agar suatu perjanjian sah, harus memiliki syarat-syarat yang diatur dalam
Pasal 1320 BW yaitu:
- Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya;
- Kecakapan untuk membuat suatu perikatan;
- Suatu hal tertentu;
- Suatu sebab yang halal;
- Wajib memberitahukan;
- Premi.
Asuransi dalam terminologi hukum merupakan suatu perjanjian, oleh karena
itu perjanjian itu perlu dikaji sebagai acuan menuju pada pengetian perjanjian
asuransi.
Secara umum pengertian perjanjian dapat dijabarkan antara lain adalah
sebagai berikut:
- Suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengakibatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih
- Suatu hubungan hukum antara pihak, atas dasar mana pihak yang satu (yang berpiutang/kreditur) yang juga berkewajiban melaksanakan dan bertanggung jawab atas suatu prestasi.
Dari batasan tersebut di atas dapat diketahui bahwa setiap perjanjian
pada dasarnya akan meliputi hal-hal tersebut dibawah ini:
- Perjanjian selalu menciptakan hubungan hukum;
- Perjanjian menunjukan adanya kemampuan atau kewenangan menurut hukum;
- Perjanjian mempunyai atau berisikan suatu tujuan bahwa pihak yang satu akan memperoleh dari pihak yang lain suatu prestasi yang mungkin memberikan sesuatu, melakukan sesuatu, melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu;
- Dalam setiap perjanjian, kreditur berhak atas prestasi dari debitur, yang dengan sukarela akan memenuhinya;
- Bahwa dalam setiap perjanjian debitur wajib dan bertanggung jawab melakukan prestasinya sesuai dengan perjanjian.
Kelima unsur termaksud di atas pada hakikatnya selalu terkandung pada
setiap perjanjian termasuk perjanjian asuransi. Jadi pada perjanjian asuransi
di samping harus mengandung kelima unsur pokok termaksud, mengandung pula
unsur-unsur lain yang menunjukan ciri-ciri khusus dalam karakteristiknya.
Ciri-ciri dan karakteristik perjanjian asuransi inilah nanti yang membedakannya
dengan jenis perjanjian pada umumnya pada perjanjian-perjanjian lain.
Mengingat arti pentingnya perjanjian asuransi sesuai dengan tujuannya,
yaitu sebagai suatu perjanjian ini sebenarnya menawarkan suatu kepastian dari
suatu ketidakpastian mengenai kerugia-kerugian ekonomi yang mungkin diderita
karena suatu peristiwa yang belum pasti. Batasan perjanjian asuransi secara
formal terdapat dalam Pasal 246 Kitab Undang-undang Hukum Dagang.
Apabila suatu peristiwa atau resiko yang diperjanjikan dalam polis asuransi
itu terjadi, maka tertanggung atau pemegang polis atau pihak yang ditunjuk
untuk menerima manfaat melapor kekantor cabang perusahaan asuransi yang
bersangkutan. Laporan dapat dilakukan melalui surat ataupun secara lisan dengan
telepon, kepada customer service atau
kepada bagian kalim. Setelah menerima laporan, unit klaim akan memeriksa arsip
atau database untuk melihat apakah klaim telah dilunasi dan kondisi-kondisi
yang lain.
Cara untuk mengajukan klaim harus memenuhi beberapa syarat yaitu:
- Formulir pengajuan klaim (FPK) yang telah diiisi lengkap;
- Melampirkan kartu peserta PT. ASKES;
- Kwitansi pembayaran premi terakhir.